ECOMScape-Indonesia-2017-ecommerceIQ

ECOMScape 2017: Lanskap Ecommerce Indonesia yang Selalu Berubah

Sebagai industri dengan pertumbuhan tercepat di salah satu pasar paling berkembang di dunia, evolusi lanskap ecommerce di Asia Tenggara mendapati banyak pemain baru dan beberapa konsolidasi sejak seri ECOMScape pertama akhir tahun lalu oleh ecommerceIQ.

Edisi terbaru ECOMScape tahun ini dimulai dari Indonesia dan Thailand.


Diharapkan untuk memenangkan bagian terbesar peluang ecommerce sebesar $200 miliar di Asia Tenggara, mudah untuk melihat mengapa raksasa Cina seperti Alibaba, JD, dan Tencent meninggalkan pasar dalam negerinya sendiri untuk masuk ke Indonesia. Apa yang telah terjadi dalam waktu setahun?

 

1. Perusahaan China Sedang Kelaparan

Dari total investasi $3 miliar yang masuk ke startup Indonesia dalam delapan bulan pertama tahun 2017, 94% pendanaan berasal dari investor Cina.

Berita mengenai Alibaba yang memimpin investasi sebesar $1.1 miliar di Tokopedia menciptakan semangat di industri, terutama karena JD juga diisukan mengajukan penawaran ke marketplace lokal populer tersebut.

eIQ-Insights-CN-Investment-IV--768x480

Meskipun kesempatannya sudah berlalu, hal ini tidak menghentikan JD untuk berpartisipasi dalam putaran pendanaan dua unicorn Indonesia lainnya, aplikasi layanan transportasi Go-Jek, dan platform pemesanan tiket perjalanan online Traveloka. Raksasa Cina, Tencent, juga bergabung dalam putaran pendanaan Go-Jek.


2. Seleksi Alam: Sebuah Perlombaan ke Bawah

Seiring dengan bertambah jenuhnya pasar Indonesia, baik itu di kalangan pemain maupun pada ranah investasi, kita hanya tinggal menunggu waktu sebelum seleksi alam menyingkirkan perusahaan yang lebih lemah (terutama mereka yang dananya terbatas).

2017 adalah saksi mata dari peristiwa di mana beberapa perusahaan ecommerce di Indonesia tutup atau mengubah bisnis model dan para investor menarik diri sebelum saham mereka menjadi sia-sia. Dan jangan berpikir ini hanya terjadi pada “ikan kecil” saja.

Contoh kasus? Alfacart dan Elevenia.

Awal tahun ini, pemain minimarket Indonesia, Alfacart, mengumumkan keputusannya untuk menutup model marketplace­-nya setelah tertinggal jauh dari beberapa e-marketplace seperti Lazada dan MatahariMall.

Diluncurkan tahun 2013, Elevenia merupakan perusahaan joint venture dari perusahaan telco XL Axiata dan perusahaan Korea SK Planet. Meskipun ada yang mengklaim bahwa Elevenia memiliki pertumbuhan yang positif selama beberapa tahun, merupakan pertanda jelas ketika kedua perusahaan menarik diri dan menjual saham mereka ke konglomerat Indonesia, grup Salim.

Bahkan ecommerce dari perusahaan telco besar, Indosat, Cipika, tutup di bulan Juni karena model bisnis yang tidak menguntungkan dan tingkat pembakaran uang yang tinggi sebagai alasan.

eIQ-ECOMScape-ID-1-1024x423

Dengan adanya investasi langsung dari JD dan Alibaba di perusahaan-perusahaan lokal, bukan berarti ada sebuah kelonggaran untuk mengharapkan lebih sedikit nama di ECOMScape tahun depan.


3. Kompetisi Marketplace Meningkat

Jika pada tahun lalu Tokopedia fokus mengembangkan bisnis C2C, marketplace local ini telah lama menyiapkan diri dengan kuat untuk berpindah ke B2C, ditandai dengan pembukaan toko resmi Unilever di platform tersebut.

Perpindahan ini telah menjadi kompetisi yang ketat bagi Lazada, terutama sebagai dua perusahaan ecommerce yang secara bergantian mengisi posisi teratas dalam hal web traffic di Indonesia (yang mungkin menjadi alasan mengapa Alibaba berinvestasi di kedua perusahaan tersebut).

eIQ-ECOMScape-ID-2-1-e1510895284326

eIQ-ECOMScape-ID-3-1-e1510895313514

Shopee yang didukung Sea juga telah membuka platform untuk merek dengan meluncurkan Shopee Mall yang diklaim menangani lebih dari 500 merek.

Perpindahan dari C2C ke B2C adalah sebuah perkembangan alami sebagai perusahaan yang berusaha meningkatkan pendapatan dan memanfaatkan basis pelanggan yang sudah besar.


4. Memiliki Fintech adalah untuk “Anak Keren” Tapi Kutu Buku yang Akan Menang

Sementara pembayaran masih menjadi kendala dalam ecommerce Indonesia meskipun beberapa perusahaan merilis e-wallet mereka sendiri tahun lalu, Indonesia dan kawasan Asia Tenggara akhirnya kini berpotensi memiliki solusi nyata.

Baik Kudo dan Kioson sedang membekali pengusaha mikro dan pemilik bisnis kecil yang memiliki dan menjalankan operasionalnya sendiri di daerah pedesaan dengan platform digital mereka untuk memberdayakan mereka dengan bertindak sebagai jembatan antara perusahaan ecommerce dan warga pedesaan.

Konsep O2O (online-to-offline) jelas memiliki beberapa manfaat, karena kedua perusahaan menarik perhatian investor dan menjadi berita utama di tahun 2017. Kudo diakuisisi oleh Grab dan Kioson mengumpulkan $3,3 juta sebagai perusahaan teknologi pertama yang IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

eIQ-ECOMScape-ID-4-1024x684

Startup “emas” Indonesia, Go-Jek, juga memanfaatkan jutaan penggunanya dengan meluncurkan mobile wallet sendiri, GoPay, yang memiliki potensi nyata untuk menjadi WeChat-nya Indonesia.

Penggunaan GoPay telah meningkat dari pembayaran untuk transportasi hingga memungkinkan transfer peer-to-peer (P2P) dan melakukan pemesanan makanan, belanja, tiket, dan perawatan kecantikan yang sangat mudah dalam satu aplikasi.

===

Artikel asli: https://ecommerceiq.asia/indonesia-ecommerce-landscape-2017/?utm_source=country%20page